Space Iklan
Kleptomania adalah masalah psikologis yang diderita oleh seseorang, menyebabkan ia punya keinginan kuat untuk mengambil barang yang bukan miliknya alias mencuri. Padahal bisa jadi ia sama sekali tak memerlukan barang yang dicurinya tersebut, atau butuh uang sehingga barang itu ia jual kemudian.
Bahkan menurut penelitian penderita kleptomania lebih banyak berasal dari kalangan berada, dan lebih banyak kaum wanita dibanding pria. Waduh.
Dilansir laman Mayo Clinic, penelitian yang dihelat oleh Stanford University menemukan fakta bahwa 62,5 persen penderita adalah wanita dan 37,5 persen lainnya berjenis kelamin pria.
Para pasien yang menderita kleptomania juga akan membantah jika mereka dianjurkan untuk mengobati penyakit tersebut, karena merasa tidak sakit. Mereka akan menyangkal melakukan pencurian walau bukti sudah ada.
Tak heran jika disebabkan hal itu hidup penderita kleptomania dapat hancur, walau yang mereka curi bukan hal besar. Biasanya sanksi sosial lah yang menyebabkan kondisi tersebut makin parah.
Keinginan mengambil benda yang bukan miliknya itu umumnya berawal spontan, tanpa direncanakan. Dorongan kuat tersebut, bisa dipicu adanya rasa takut ketahuan, stres, depresi, namun jika berhasil mengambil yang bukan miliknya ia akan merasa sangat puas dan lega.
Penelitian ada yang menyebut bahwa pengaruh hormon serotonin yang terdapat di otak, memicu seseorang menjadi klepto. Itu adalah hormon yang mengatur emosi dan mood serta suasana hati. Jika ia sudah mencuri maka perasaan menyenangkan akan ia alami.
Penyebab lain, dikaitkan dengan gangguan kecanduan atau gangguan obsesif-kompulsif yakni rasa ingin memiliki yang kuat. Akan tetapi ini juga masih dalam penelitian lebih lanjut, karena per penderita bisa berbeda pemicunya.
Mengobati sedini mungkin ke psikolog atau psikiater adalah solusi untuk bisa lepas dari penyakit kejiwaan kleptomania ini. Keluarga pun selayaknya memberikan dukungan kepada penderita kleptomania agar mau menyembuhkan sakit tersebut.
Bahkan menurut penelitian penderita kleptomania lebih banyak berasal dari kalangan berada, dan lebih banyak kaum wanita dibanding pria. Waduh.
Dilansir laman Mayo Clinic, penelitian yang dihelat oleh Stanford University menemukan fakta bahwa 62,5 persen penderita adalah wanita dan 37,5 persen lainnya berjenis kelamin pria.
Para pasien yang menderita kleptomania juga akan membantah jika mereka dianjurkan untuk mengobati penyakit tersebut, karena merasa tidak sakit. Mereka akan menyangkal melakukan pencurian walau bukti sudah ada.
Tak heran jika disebabkan hal itu hidup penderita kleptomania dapat hancur, walau yang mereka curi bukan hal besar. Biasanya sanksi sosial lah yang menyebabkan kondisi tersebut makin parah.
Keinginan mengambil benda yang bukan miliknya itu umumnya berawal spontan, tanpa direncanakan. Dorongan kuat tersebut, bisa dipicu adanya rasa takut ketahuan, stres, depresi, namun jika berhasil mengambil yang bukan miliknya ia akan merasa sangat puas dan lega.
Penelitian ada yang menyebut bahwa pengaruh hormon serotonin yang terdapat di otak, memicu seseorang menjadi klepto. Itu adalah hormon yang mengatur emosi dan mood serta suasana hati. Jika ia sudah mencuri maka perasaan menyenangkan akan ia alami.
Penyebab lain, dikaitkan dengan gangguan kecanduan atau gangguan obsesif-kompulsif yakni rasa ingin memiliki yang kuat. Akan tetapi ini juga masih dalam penelitian lebih lanjut, karena per penderita bisa berbeda pemicunya.
Mengobati sedini mungkin ke psikolog atau psikiater adalah solusi untuk bisa lepas dari penyakit kejiwaan kleptomania ini. Keluarga pun selayaknya memberikan dukungan kepada penderita kleptomania agar mau menyembuhkan sakit tersebut.